Watampone, (Kemenag Bone) – Program Studi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan akurasi arah kiblat berbasis teknologi digital di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone, Kamis (10/9/2026). Kegiatan melibatkan Mahasiswa tersebut didampingi Dosen Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar, Muh. Raswan, dengan sasaran para Penyuluh Agama Islam lingkup Kantor Kemenag Bone.
Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Bone, H. Ahmad Yani. Turut hadir Plt. Kasubbag Tata Usaha, Rahman, serta Kasi Bimas Islam, Sahuddin. Melalui kegiatan ini, para penyuluh mendapatkan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam melakukan pengecekan dan pengukuran arah kiblat secara lebih akurat.
Muh. Raswan dalam pemaparannya menyampaikan bahwa kegiatan PKM tersebut tidak berhenti pada penyuluhan, tetapi akan dilanjutkan dengan praktik langsung di lapangan bersama mahasiswa Program Studi Ilmu Falak. Sejumlah lokasi menjadi sasaran pengukuran, di antaranya masjid, Lapangan Merdeka yang kerap digunakan untuk pelaksanaan Salat Id, serta kompleks pemakaman besar di Macanang.
Menurutnya, akurasi arah kiblat tidak hanya berkaitan dengan masjid sebagai tempat pelaksanaan ibadah salat, tetapi juga penting diperhatikan pada lokasi pemakaman. Karena itu, pendampingan diharapkan dapat memberikan pemahaman sekaligus keterampilan praktis kepada para penyuluh agar mampu membantu masyarakat dalam memastikan ketepatan arah kiblat di wilayah masing-masing.
Kepala Kantor Kemenag Bone, H. Ahmad Yani, menyampaikan bahwa persoalan arah kiblat masih menjadi perhatian di Kabupaten Bone. Ia menyebut, berdasarkan pengamatannya, masih banyak masjid yang posisi bangunannya belum sepenuhnya mengarah ke kiblat. Kondisi tersebut, kata dia, antara lain disebabkan oleh proses pembangunan masjid yang sejak awal lebih mengandalkan posisi bangunan, arahan tukang, barisan rumah di kawasan permukiman, maupun posisi jalan raya, tanpa didasarkan pada hasil pengukuran ilmu falak.
“Kemenag sudah memiliki tim hisab rukyat yang secara berkala turun ke lapangan untuk melakukan pengukuran arah kiblat, baik atas permintaan panitia masjid maupun untuk lokasi pembangunan masjid baru. Ini dilakukan untuk membantu meluruskan arah kiblat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengukuran arah kiblat untuk kompleks pemakaman juga menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. Selama ini, aspek tersebut dinilai belum banyak tersentuh, sehingga kegiatan PKM yang melibatkan mahasiswa Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar menjadi momentum untuk memperluas edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
H. Ahmad Yani berharap, setelah mengikuti penyuluhan tersebut, para Penyuluh Agama Islam dapat berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan unsur terkait di wilayah kerja masing-masing. Dengan demikian, akurasi arah kiblat dapat dilakukan secara lebih luas, baik pada masjid maupun lokasi pemakaman, dengan memanfaatkan pengetahuan ilmu falak dan teknologi digital. (Ahdi)