Sailong, (Kemenag Bone) – Sebagai abdi masyarakat sekaligus bagian dari aparatur yang menjalankan tugas pembinaan keagamaan, seorang penghulu dituntut untuk senantiasa siap memberikan pelayanan keagamaan kapan pun dan di mana pun dibutuhkan. Hal tersebut ditunjukkan Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Bone, H. Firman Syata, yang secara spontan menjadi khatib sekaligus imam Salat Jumat di tengah kegiatan Kemenag Bone Peduli, Jumat (18/9/2026).
Kepala KUA Kecamatan Tanete Riattang tersebut sebelumnya tidak memiliki agenda untuk menjadi khatib pada hari itu. Ia bersama rombongan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone yang dipimpin Kepala Kantor Kemenag Bone, H. Ahmad Yani, tengah melaksanakan penyaluran bantuan atau santunan kepada warga yang menjadi korban kebakaran di Desa Sanrangeng, Sailong, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone.
Semula, rombongan Kemenag Bone berencana meninggalkan lokasi sebelum masuk waktu Salat Jumat. Namun, rangkaian kegiatan di lapangan berlangsung hingga mendekati waktu Salat Jumat sehingga rombongan memutuskan untuk menunaikan ibadah tersebut di masjid terdekat dari lokasi kegiatan.
Masjid Jamiul Ulum Desa Sailong kemudian menjadi tempat rombongan melaksanakan Salat Jumat. Dalam situasi tersebut, H. Firman Syata dipercaya untuk menjadi khatib sekaligus imam. Tanpa persiapan khusus dan di luar agenda yang telah direncanakan, ia menyampaikan khutbah dengan mengangkat tema tentang tujuan penciptaan manusia dan makna syukur.
Di atas mimbar, H. Firman Syata mengingatkan bahwa kehidupan dunia merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Ia mengajak jamaah untuk menyadari bahwa setiap nikmat dan apa pun yang dimiliki manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawaban.
“Apapun yang dimiliki di dunia akan dipertanyakan nanti di akhirat,” ungkap H. Firman Syata dalam khutbahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah Swt. adalah untuk beribadah kepada-Nya. Sementara kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi, menurutnya, merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan menjadi bagian dari perjalanan manusia menuju kehidupan akhirat.
Menurut H. Firman Syata, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa tugas seorang ASN Kementerian Agama, khususnya penghulu, tidak sebatas menjalankan pekerjaan administratif maupun tugas kedinasan yang telah diagendakan. Dalam kondisi tertentu, seorang penghulu juga dituntut mampu memberikan pelayanan dan bimbingan keagamaan kepada masyarakat.
“Sebagai ASN Kementerian Agama, apalagi kita sebagai penghulu, masyarakat memandang bahwa kita memiliki kemampuan dan kesiapan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan keagamaan. Karena itu, kapan pun dibutuhkan, kita harus siap memberikan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.
Momen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian seorang penghulu dapat hadir dalam berbagai situasi. Meskipun tidak masuk dalam perencanaan perjalanan dinas, kesempatan menjadi khatib dan imam Salat Jumat dimanfaatkan H. Firman Syata untuk memberikan penguatan keagamaan kepada masyarakat di sela-sela kegiatan Kemenag Bone Peduli. (Ahdi)