Melle, ( Kemenag Bone) — Majelis Taklim Desa Melle melaksanakan kegiatan penyuluhan keagamaan, Rabu (9/9/2026) bertempat di Masjid Jamiul Iman Lawarenge. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Shalat Khusyuk” dan diikuti oleh anggota Majelis Taklim Desa Melle. Penyuluhan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan keagamaan untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas pelaksanaan ibadah shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Materi penyuluhan disampaikan oleh Ustadz Ilham, yang mengajak peserta memahami bahwa shalat bukan sekadar rangkaian gerakan fisik dan bacaan yang dilakukan dari takbir hingga salam. Lebih dari itu, shalat merupakan bentuk penghambaan yang membutuhkan kesadaran hati. “Shalat bukan hanya menggerakkan tubuh, tetapi menggerakkan kesadaran,” menjadi salah satu pesan utama dalam penyampaian materi tersebut.
Dalam penjelasannya, Ustadz Ilham menerangkan bahwa khusyuk tidak berarti seseorang harus terbebas sepenuhnya dari segala pikiran atau gangguan. Khusyuk merupakan keadaan ketika hati berusaha hadir, menyadari bahwa dirinya sedang menghadap Allah SWT, serta berusaha memahami dan menghayati setiap bacaan dan gerakan dalam shalat.
Poin- Poin inti sholat Khusyu, yaitu ;
1. Khusyuk adalah menghadirkan hati dalam shalat
2. Shalat bukan hanya gerakan tubuh
3. Memahami arti bacaan membantu menghadirkan hati
4. Jangan langsung menuntut diri harus khusyuk
5. Tiga tahap praktis melatih kekhusyukan
- Faham: memahami arti bacaan yang dibaca.
- Hadir: ketika membaca, menyadari bahwa kita sedang menghadap Allah SWT.
- Rasakan: menghubungkan makna bacaan dengan keadaan dan kebutuhan diri
Dengan cara demikian, bacaan shalat tidak lagi sekadar diucapkan oleh lisan, tetapi mulai dihubungkan dengan keadaan dan kebutuhan seorang hamba. Proses tersebut diharapkan dapat membuat shalat terasa lebih bermakna dan membangun hubungan spiritual yang lebih kuat dengan Allah SWT.
Kegiatan penyuluhan turut dihadiri oleh penyuluh agama Islam lainnya. Muh. Rakib berperan memimpin shalawat, sedangkan Amrisal bertindak sebagai moderator. Kehadiran para penyuluh tersebut turut mendukung kelancaran kegiatan dan memberikan suasana pembinaan yang lebih hidup bagi anggota majelis taklim.
Pada kesempatan tersebut, peserta diajak untuk menjadikan shalat sebagai sarana memperbaiki diri. Shalat yang dilakukan dengan kesadaran diharapkan tidak berhenti pengaruhnya ketika seseorang meninggalkan masjid, tetapi tercermin dalam sikap, perkataan, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Dengan demikian, keberhasilan shalat tidak semata-mata diukur dari berapa lama seseorang berdiri di atas sajadah, tetapi juga dari sejauh mana shalat tersebut memberikan perubahan dalam dirinya. Shalat yang dihayati diharapkan mampu membuat hati lebih tenang, pikiran lebih terarah, serta perilaku semakin baik. (Ashar/Ahdi)