Malang, (Kemenag Bone) – Kementerian Agama terus mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pendidikan Inklusi di satuan pendidikan. Sejalan dengan kebijakan tersebut, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone turut menggaungkan dan mengimplementasikan KBC, Pendidikan Inklusi, serta pendidikan yang ramah anak di lingkungan madrasah.
Untuk memperkuat pemahaman sekaligus melihat secara langsung praktik penerapan pendidikan inklusi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone, H. Ahmad Yani, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad), Rahman, mengajak Ketua Pokjawas bersama para Pengawas Madrasah serta Kepala Madrasah Negeri dan Swasta melakukan studi tiru ke MI Ar Roihan Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (11/9/2026). Turut hadir Ketua DWP Kemenag Bone.
Rombongan Kemenag Bone diterima langsung Kepala MI Ar Roihan Lawang, Dr. Lailil Qomariyah, M.Pd. Madrasah yang berdiri dengan bangunan tiga lantai tersebut menjadi lokasi studi tiru karena dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola dan menerapkan pendidikan inklusi secara komprehensif.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat melalui bincang dan diskusi antara rombongan Kemenag Bone dengan jajaran MI Ar Roihan Lawang. Berbagai hal dibahas, khususnya terkait manajemen madrasah dalam menyelenggarakan pendidikan inklusi, pola pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus, hingga strategi membangun penerimaan dan kebersamaan di lingkungan madrasah.
Berdasarkan data yang disampaikan pihak madrasah, MI Ar Roihan Lawang saat ini memiliki sekitar 775 peserta didik, dengan 96 di antaranya merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Peserta didik ABK memiliki beragam kondisi, di antaranya tunarungu, tunawicara, ADHD, down syndrome, serta kebutuhan khusus lainnya. Dalam proses pembelajaran, madrasah menerapkan pola pendampingan intensif dengan menempatkan satu guru untuk mendampingi satu peserta didik ABK, atau maksimal dua peserta didik untuk satu guru, sesuai kebutuhan.
Untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusi tersebut, MI Ar Rosihan Lawang memiliki sekitar 170 guru dan tenaga pendidik, termasuk 77 Guru Pembimbing Khusus (GPK). Pengelolaan pendidikan inklusi dilakukan secara terintegrasi sehingga peserta didik berkebutuhan khusus tetap memperoleh kesempatan belajar dan berkembang bersama peserta didik lainnya.
Kepala MI Ar Roihan Lawang, Lailil Qomariyah dalam sambutannya menceritakan perjalanan madrasah yang pada awalnya hanya memiliki sekitar 30 peserta didik hingga kini berkembang menjadi 775 peserta didik. Menurutnya, penerapan pendidikan inklusi juga tidak serta-merta diterima oleh seluruh orang tua peserta didik.
Ia mengungkapkan, pada awal penerapan pendidikan inklusi terdapat orang tua peserta didik reguler yang merasa keberatan apabila anak mereka belajar bersama anak berkebutuhan khusus. Pihak madrasah kemudian mengedepankan pendekatan komunikasi dan dialog dengan mengumpulkan para orang tua untuk berdiskusi dan membangun pemahaman bersama.
“Bagaimana kalau suatu saat anak kita yang mengalami kondisi seperti itu?” menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam membuka kesadaran dan empati para orang tua terhadap keberadaan anak berkebutuhan khusus. Pendekatan tersebut secara perlahan membangun penerimaan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan lingkungan belajar yang aman serta nyaman.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Bone, H. Ahmad Yani, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak MI Ar Roihan Lawang yang telah menerima rombongan Kemenag Bone dengan baik. Ia menilai pengalaman yang diperoleh para Pengawas Madrasah dan Kepala Madrasah melalui studi tiru tersebut menjadi pembelajaran berharga yang dapat dikembangkan di Kabupaten Bone.
“Para pengawas dan kepala madrasah yang berkunjung hari ini telah melihat secara langsung bagaimana pendidikan inklusi diterapkan. Ini luar biasa dan tentu akan menjadi pengalaman sekaligus acuan bagi kita untuk mengembangkan pendidikan inklusi di Bone,” ujar H. Ahmad Yani.
Ia menambahkan, di Kabupaten Bone saat ini sosialisasi mengenai pendidikan inklusi terus dilakukan. Namun, sejauh ini belum terdapat madrasah di Bone yang secara khusus menjadi role model dalam penerapan pendidikan inklusi seperti yang telah dilakukan MI Ar Roihan Lawang.
Karena itu, H. Ahmad Yani berharap hasil studi tiru tersebut tidak berhenti pada kunjungan semata, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi madrasah di Kabupaten Bone untuk mulai membangun sistem pendidikan yang semakin inklusif, ramah anak, dan memberikan ruang yang setara bagi seluruh peserta didik untuk tumbuh dan berkembang. (Ahdi)