Watampone, (Kemenag Bone) — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bone melalui Kelompok Kerja Madrasah (K2M) Madrasah Aliyah menggelar kegiatan Implementasi Piloting Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pendidikan Inklusi, Selasa (1/9/2026), di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Bone.
Kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Madrasah Ramah, Inklusif dan Berkarakter Melalui Implementasi Piloting KBC” tersebut diikuti para Kepala Madrasah Aliyah se-Kabupaten Bone. Turut hadir Kepala Kantor Kemenag Bone H. Ahmad Yani, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Rahman beserta staf, serta para Pengawas Madrasah tingkat MA.
Dua materi utama disampaikan dalam kegiatan tersebut. Ketua Pokjawas Madrasah Kemenag Bone, A. Nurbudiman, membawakan materi Piloting Kurikulum Berbasis Cinta, sedangkan Pengawas Madrasah tingkat MTs, Akmal, menyampaikan materi Pendidikan Inklusi.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Rahman dalam laporannya menyampaikan sejumlah agenda madrasah yang akan segera dilaksanakan, di antaranya Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) pada 7–8 September 2026. Ia berharap Kabupaten Bone dapat kembali menjadi daerah dengan jumlah peserta terbanyak di Sulawesi Selatan sebagaimana capaian tahun sebelumnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah kepala MAN tidak dapat hadir karena mengikuti persiapan Kemah Pramuka Madrasah di Gowa yang dijadwalkan dibuka pada Rabu, 2 Agustus 2026. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat berjalan sukses.
Kepala Kantor Kemenag Bone, H. Ahmad Yani dalam arahannya menegaskan bahwa implementasi KBC dan pendidikan inklusi sejalan dengan semangat Asta Protas Menteri Agama, khususnya dalam mewujudkan pendidikan yang ramah, meningkatkan kerukunan dan Cinta Kemanusiaan, dan Ekoteologi.
Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta tidak sekadar berbicara mengenai materi pembelajaran, tetapi juga bagaimana guru menghadirkan suasana pendidikan yang penuh kasih dan keteladanan.
“Seorang guru itu mengajarkan anak tanpa mengharapkan balasan. Maka, ajarkan siswa seolah-olah kita mengajar anak sendiri. Kalau kita mengajar dengan penuh keikhlasan, insyaallah apa yang diajarkan akan lebih berkah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, nilai-nilai cinta dalam KBC mencakup kecintaan kepada Allah, mencintai dan menerima sesama, serta mencintai lingkungan. Nilai tersebut diharapkan hadir dalam kehidupan madrasah, baik dalam hubungan guru dengan siswa maupun antarguru, sehingga tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan harmonis.
Sementara dalam penerapan pendidikan inklusi, H. Ahmad Yani mendorong madrasah memberikan ruang dan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan.
“Berikan kesempatan kepada anak-anak kita secara non-diskriminatif. Banyak anak hebat yang memiliki keterbatasan, tetapi mampu berprestasi. Contohnya Putri Ariani yang memiliki keterbatasan penglihatan, namun mampu berkiprah hingga tingkat internasional,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan inklusi membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk kesiapan sarana dan prasarana madrasah. Karena itu, pemahaman para kepala madrasah terhadap pendidikan inklusi dinilai penting agar peserta didik berkebutuhan khusus tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak.
Pada kesempatan tersebut, H. Ahmad Yani juga mengingatkan para kepala madrasah dan guru untuk terus meningkatkan kompetensi di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Di era teknologi, teruslah belajar. Kalau tidak, kita akan tertinggal. Kita harus mengikuti perkembangan zaman dan terus belajar agar tidak tertinggal,” pesannya. (Ahdi)